Ketua Konsorsium NTB Membaca: di NTB Masih Darurat Literasi

Lalu Sirajul Hadi, Ketua Konsorsium NTB Membaca
Foto : Lalu Sirajul Hadi, Ketua Konsorsium NTB Membaca

SASAMBO NEWS - Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) yang ke-55 tahun ini masih menyisakan pertanyaan untuk provinsi NTB dalam konteks Buta Aksara.

Berdasarkan hasil Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB masih berada pada posisi 33 dari 34 provinsi di Indonesia, atau hanya satu tingkat di atas Papua yang mencapai indeks 21,9 di susul NTB 7,46 jauh di bawah nasional yang 1,79 dalam Hal Buta Aksara.

"Termasuk juga hasil riset Puslitbang Kemendikbud tentang Indeks Angka Literasi Membaca, pada dimensi kecakapan pun kita berada di atas Papua dan di bawah NTT, ada apa ini, apa yang salah" ungkap Lalu Sirajul Hadi, Ketua Konsorsium NTB Membaca, Selasa 8/09 di Mataram.

Sirajul menjelaskan, konsep dan orientasi progam pengentasan buta aksara selama ini basisnya bias dan tidak jelas, cendrung pasif dan proyek oriented, tidak dari kebutuhan dan panggilan kesadaran.

"Itu persoalannya, kita khawatir karena dianggap tidak prinsip sehingga minim sentuhan, kalau itu konsepnya maka itu berbahaya" katanya.

Sirajul menambahkan, pemerintah dan masyarakat NTB tidak boleh acuh dan apriori terhadap data-data hasil riset atau survey tentang problem krisis literasi dan aksara di NTB yang masih kurang baik.

"Harus ada kepekaan politik yang dibarengi dengan hadirnya skema kebijakan yang konkrit, terukur dan berkesinambungan dalam menyelesaikan problem literasi dan keaksaraan di NTB" Lanjutnya.


Menurut Sirajul untuk meminimalisir Dampak dari krisis Literasi tentu membutuhkan Sinergi dan dukungan semua pihak ketingkat yang lebih serius.

"Ingat, bahaya krisis literasi di suatu bangsa atau daerah, tidak kalah dahsyatnya dengan bahaya krisis ekonomi, karena krisis literasi itu menyangkut kualitas dan martabat manusia seumur hidupnya, jadi mari dipikirkan dan diselesaikan bersama-sama, dalam koalisi gerakan literasi yang lebih massif" Jelasnya

Kata Sirajul menambahkan, terkait Program gubernur NTB untuk mengirim anak-anak NTB melanjutkan studi ke luar negeri merupakan Program yang patut mendapat apresiasi, Namun harus dibarengi dengan hal yang lebih fundamental dari itu.

"satu sisi patut kita apresiasi dan hargai. Tetapi di sisi lain, karena literasi adalah fondasi dan pilar penting pengembangan sumber daya manusia, maka fondasi atau jangkar tersebut tidak boleh keropos, harus diperhatikan juga secara serius, bahkan harus menjadi skala perioritas dalam kebijakan pembangunan", Urainya

"Kita tidak boleh lagi hanya mengandalkan kerja-kerja kelompok komunitas dan relawan dalam mengedukasi dan me literasi masyarakat, itu sangat tidak cukup, karena hakikatnya mereka memiliki banyak kendala dan keterbatasan. Oleh sebab itu, kolaborasi sungguh-sungguh yang didasarkan atas kesadaran dan komitmen bersama harus dibangun. Tentu, dengan hadirnya negara atau pemerintah sebagai wadah yang memayungi. Karena sejatinya pemerintah yang memiliki perangkat dan instrumen yang lengkap untuk itu" Tambahnya

Menutup Uraiannya, Sirajul memberikan Apresiasi dan kebanggaan terhadap Komunitas-Komunitas literasi yang masih Konsisten bekerja membangun Sumber Daya Manusia NTB meski dalam keterbatasan.

"Kita juga sangat mengapresiasi luar biasa kerja-kerja komunitas relawan yang ada di NTB selama ini, khususnya yang concern pada bidang literasi, numerasi dan pendidikan inklusi. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap semangat dan gigih mengedukasi dan mengadvokasi masyrakat, dengan varian cara dan metode yang mereka lakukan" Tutup Pria yang juga saat ini menjadi Kepala MAN 3 Mataram itu. (SN-01)

Komentar